SPIRITUALISME ABADI MASJID AMPEL

Selasa, 10 Juli 2007

Masuk dalam Masjid Ampel seperti masuk dalam kawasan multi dimensi. Selain sentuhan nilai-nilai religi yang kental, nuansa historisnya seperti mengusik rasa ingin tahu.

Sebagai salah satu masjid tertua di Surabaya, Masjid Agung Sunan Ampel dinilai dekat dengan sejarah dan mitos. Sebagian orang percaya, tempat ini menyimpan misteri dan sisi-sisi magis. Lebih-lebih bila dihubungkan dengan pengalaman spiritual Sunan Ampel, salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam siar Islam di tanah Jawa, yang kaya dengan keajaiban.

Memasuki bulan Ramadhan, tempat ini jadi salah satu kawasan yang paling dicari. Selain niat ingin menjalankan sholat dan dzikir di tempat yang tenang, banyak yang datang untuk ziarah ke makam Sunan Ampel.

Bila sudah, ada di antara mereka yang tak langsung pulang, tapi melakukan iktikaf. Iktikaf adalah memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada al-Khaliq dalam tenggang waktu tertentu. Tidak tanggung-tanggung, pengunjung yang datang dari Madura, Sidoarjo, Jombang, Gresik, dan sekitarnya itu melakukan iktikaf selama satu bulan penuh.

Sumber di masjid yang terletak di seputaran Jembatan Merah ini menyebut, tamu yang hadir di Masjid Ampel biasanya mencapai 10 ribu orang per hari. Kadang, mereka datang dengan bus yang bila ditaksir mencapai 30 bus per hari. Tak jarang, angka ini berkembang hingga dua kali lipat pada malam ke-21 Ramadan. Tahun lalu, kapasitas kawasan makam dan masjid Ampel tidak mampu menampung jumlah peziarah. Maklum, saat yang hadir 20 ribu orang, kapasitas masjid masih sekitar 15 ribu orang dan kapasitas makam sekitar 3-5 ribu orang.

"Suasana memang ramai, tapi tidak jadi soal. Saya datang ke masjid ini untuk dzikir, mohon ampun pada Allah. Jadi meskipun banyak orang tak jadi soal. Karena saya yakin, mereka yang datang ke sini memiliki tujuan sama. Bukan untuk hurahura," jelas Ikzan (34), warga Sukolilo, Surabaya. Dikatakan, ia punya kebiasaan untuk datang ke Masjid Ampel menjelang dan selama bulan Ramadhan. Berdasar pengalamannya, masjid ini mulai dipadati pengunjung sekitar satu atau dua minggu sebelum puasa. "Mungkin sekedar tradisi. Tapi dalam tradisi itu ada kegiatan ritual," tambah Ikzan yang saat itu datang bersama istri dan anak-anaknya. Selepas Isya', kata Ikzan, ia pulang ke rumah. Sebelumnya, ia mampir ke pedagang kurma untuk belanja persediaan selama puasa.

Haul Sunan Ampel

Akhir Oktober lalu, Masjid Ampel punya hajat tahunan. Memperingati Haul Sunan Ampel ke-553, pengurus masjid ini menggelar rangkaian kegiatan yang diadakan mulai tanggal 25 hingga 27 Oktober 2002. Acara itu dimulai dengan tahlil khusus muslimat, khususnya kaum ibu, pada tanggal 25 Oktober selepas Maghrib. Tahlil khusus ini diikuti tak kurang dari 5.000 orang, disusul pengajian khusus muslimat dengan penceramah Nyai Hj Chodijah dari Surabaya. Keesokan harinya, diadakan khataman Al-Quran atau membaca seluruh isi Al-Quran sebanyak 30 juz, dimulai sesudah salat subuh dan diikuti para ustadz dan ribuan santri dari Surabaya dan sekitarnya.

Setelah itu, para habib, kiai, dan santri yang tinggal di kawasan Ampel melaksanakan kirab dari kampung Margi ke makam Sunan Ampel. Kirab yang melewati Jalan KH Mas Mansur, Jalan Ampel Maghfur, dan Jalan Ampel Suci ini melibatkan 300 orang. Dalam kesempatan itu, KH Mustofa Bisri atau yang biasa dipanggil Gus Mus, pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibien, Rembang Jawa Tengah hadir. Ia datang bersama Kiai Harun dari Surabaya dan memberikan pengajian tentang perjalanan sejarah Sunan Ampel dalam mensyiarkan Islam di Tanah Jawa. Di hari terakhir, panitia mengadakan khitanan massal yang melibatkan sekitar 200 anak. Malam harinya, hadrah anggota Ishari (Ikatan Seni Hadrah RI) se-Jawa Timur digelar sebagai penutup.

- hd laksono/dokumentasi lama

0 komentar:

 
 
 
 
Copyright © ETALASE BUMI